Senin, 12 November 2012

tokoh-tokoh pendidikan islam



BAB I
PENDAHULUAN
I.       Latar Belakang
Pendidikan islam tumbuh dan berkembang sejalan dengan adanya dakwah islam yang telah dilakukan Nabi Muhammad SAW. Berkaitan dengan itu pula pendidikan islam memiliki corak dan karakteristik yang berbeda sejalan dengan upaya pembaharuan yang dilakukan terus menerus pasca generasi Nabi, sehingga dalam perjalanan selanjutnya, pendidikan islam terus mengalami perubahan baik dari segi kurikulum maupun dari segi lembaga pendidikan islam yang dimaksud.
Sedikitnya ada 5 fase yang dapat menjadi acuan dalam memahami dan menjelaskan periodesasi pendidikan islam. Pertama, masa pembinaan. Kedua, masa pertumbuhan. Ketiga, masa kejayaan. Keempat, masa kemunduran pendidikan islam. Kelima, masa pembaharuan dan modernisasi.
Dalam perjalanannya, islam telah mengalami beberapa fase yang cukup unik. Lalu, mengapa harus mengalami kemunduran?
Penelitian merupakan salah satu cara melakuakan usaha-usaha perbaikan dan pembaharuan. Ilmu tidak akan bertambah maju jika tanpa adanya penelitian dan pembaharuan. Upaya penelitian tersebut sebenarnya telah dilakukan oleh para ulama masa lalu, termasuk masalah pendidikan. Upaya penelusuran terhadap pemikiran para tokoh berkaitan dengan pendidikan, khususnya pendidikan islam. Dalam makalah ini kami paparkan pemikiran beberapa tokoh muslim tentang pendidikan islam.
II.    Rumusan Masalah
1.      Siapakah tokoh-tokoh pendidikan islam?
2.      Bagaimanakah pemikiran para tokoh tentang pendidikan islam?
III. Tujuan
1.      Mengetahui tokoh-tokoh pendidikan islam
2.      Mengetahui pemikiran para tokoh pendidikan islam?



BAB II
TOKOH-TOKOH PENDIDIKAN ISLAM

A.    Al-Ghazali
Nama lengkapnya, Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Tusi al-Ghazali, seorang pemikir Islam sepanjang sejarah Islam, teolog, filusuf, dan sufi termasyhur. Ia lahir di kota Gazalah, sebuah kota kecil dekat Tus di Khurasan, yang ketika itu merupakan salah satu pusat ilmu pengetahuan di dunia Islam. Ia meninggal di kota Tus setelah mengadakan perjalanan untuk mencari ilmu dan ketenangan batin. Nama al-Ghazali dan al-Tusi dinisbahkan kepada tempat kelahirannya.
Konsep Pendidikan Menurut Imam Al-Ghazali dalam memahami suatu sistem pendidikan, tentu tidak terlepas dari filsafat, rumusan dan langkah-langkah serta metode-metode tertentu yang didasari seseorang untuk mencapai suatu tujuan. Begitu juga pemikiran al-Ghazali dalam pandangan beliau tentang pendidikan dan pengajaran bahwa tujuan akhir yang ingin dicapai ada dua tujuan.
a.       Insan purna yang bertujuan mendekatka diri kepada Allah Swt.
b.      Insan purna yang bertujuan mendapatkan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.
Tujuan pendidikan adalah untuk membentuk Para Ilmuan yang memiliki keluruhan akhlak dan budi pekerti, Al-Ghazali mengatakan dalam salah satu kitabnya bahwa tujuan mencari ilmu pengetahuan pada setiap masa adalah untuk membentuk kesempurnaan dan ketentraman jiwa, karena itu ia bermaksud mengajarkan manusia agar sampai pada sasaran-sasaran yang merupakan tujuan akhir dan bermaksud pendidikan itu. Tujuan ini kelihatannya lebih mengarahkan kepada sifat moral dan religious, tanpa mengabaikan masalah-masalah duniawi.
Secara umum pendidikan Islam mempunyai corak yang bernafaskan agama dan moral, ini terlihat pada kenyataan bahwa al-Ghazali tidak mengabaikan masalah duniawi. Hanya saja masalah-masalah duniawi itu sebagai sarana meraih kebahagiaan hidup di akhirat yang lebih abadi dan utama.
Pendapat al-Ghazali di samping bercorak agamis yang merupakan cirri spesifik pendidikan Islam, tampak pula cenderung kepada sisi keruhaniaan. Atas dasar itulah Al-Ghazali menganggap bahwa mendapatkan ilmu itu menjadi target pendidikan, karena nilai yang terkandung dalam ilmu itu sendiri dan manusia dapat memperoleh kelezatan dan kepuasan yang ada padanya. Ilmu juga merupakan jalan yang akan mengantarkan kepada kebahagiaan di negeri akhirat, sebagai medium untuk taqarrub kepada Allah, di mana tak satu pun bisa sampai kepadanya tanpa ilmu, tingkat termulia bagi seorang manusia adalah kebahagiaan abadi, di antara wujud yang paling utama adalah wujud yang menjadi perantara kebahagiaan, tetapi kebahagiaan itu tak mungkin tercapai kecuali dengan ilmu dan amal, dan amal tak mungkin dicapai kecuali ilmu tentang cara beramal dikuasai.
Al-Ghazali mengemukakan konsep kurikulum yang erat kaitannya dengan ilmu pengetahuan. Ilmu dari Allah harus dituntut oleh setiap manusia, oleh karenanya pendidikan harus membuat seorang anak memiliki kesadaran terhadap hukum Islam melalui pelajaran al-Qur’an dan Hadits
Meskipun al-Ghazali tidak mengemukakan suatu metode pengajaran yang tertentu dalam karya tulisnya yang beraneka ragam tentang pendidikan, tetapi perhatiannya ditujukan pada metode khusus bagi pengajaran agama untuk anak-anak. Perhatiannya terhadap pendidikan agama dan moral sejalan dengan kecenderungan pendidikannya secara umum, yaitu prinsip-prinsip yang berkaitan khusus dengan sifat yang harus dimiliki oleh seorang guru dalam melaksanakan tugasnya. Proses pendidikan dan pengajaran merupakan aktivitas yang menuntut adanya keteladanan guru dan hubungan yang erat antara seseorang dengan lainnya yaitu guru dan murid yang akan mendorong terciptanya metode pengajaran yang amat penting.
Al-Ghazali menekankan pentingnya persiapan bahan pengajaran oleh guru. Para guru harus mengamalkan ilmunya yang hendak diajarkan dengan cara menarik perhatian para siswa, memberikan fasilitas dan kesempatan kepada para siswa untuk memahami bahan pelajaran yang diajarkan.
Menurut Al-Ghazali konsep yang selanjutnya adalah kriteria guru yang baik dan sifat murid yang baik, sehingga tujuan pendidikan nya itu berjalan dengan baik. Dengan demikian tujuan pendidikan mengutamakan aspek spiritualnya, sehingga dapat membentuk manusia-manusia yang beriman dan bertakwa karena pembentukan iman dan takwa serta keluhuran akhlak adalah aspek yang sangat mendasar dalam pendidikan.[1]
B.     Ibnu Sina
Nama lengkap Ibnu Sina adalah Abu Ali al Husain bin Abdullah bin al Hasan bin Ali bin Sina. Ia lahir di kota Afsyana suatu tempat yang terletak di dekat Bukhara tahun 980 M atau 370 H. orang tuanya berkedudukan sebagai pegawai tinggi pada pemerintahan Dinasti Samani (204-395/819-1005).
Menurut Ibnu Sina jiwa terbagi menjadi tiga yaitu jiwa tumbuh-tumbuhan, hewan dan manusia, dari ketiga itumempengaruhi tingkah laku mannusia. Jika jiwa tumbuh-tumhuan yang berkuasa pada dirinya, maka orang itu dapat menyerupai tingkah laku binatang . tetapi jika manusia mempunyai jiwa atas dirinya,maka manusia itu akan berperilaku muliayang dekat menyerupai malaikat dan dekat pada kesempurnaan.
Jiwa manusia akan digunakan manusia untuk menghantarkanya menjadi manusia yang sempurna yang menggunakan potensi dirinya dan memanfaatkan segala anugerahyang telah diberikan Alllah SWT sehingga dapat mengabdikan dirinya untuk mencari keridhoan-Nya. Konsep pendidikan yang ditawarkanya mementingkan unsur psikologi anak didik. Ini dapat dilihatdari seorang Ibnu Sina seorang filosofyang memeilikikonsep tentang jiwa.[2]
C.    Imam Hanafi
Imam Abu Hanafiah lahir di Kufah, irak, tahun 80 H dan wafat di Baghdad pada tahun 150 H. Nama lengkapnya adalah Nu’ma Ibn Tsabit Ibn Zautha. Ayahnya adalah keturunan bangsa Persia yang lahir di Kabul Afganistan dan seorang saudagar besar, pedagang bahan pakaian.maka sejak muda beliau terdidik dalam urusan berdagang dan berniaga. Oleh sebab itu sekalipun beliau telah menjadi pencinta ilmu dan seorang alim terkemuka, namun tetap berdagang dan berniaga. Dan oleh karenanya beliau termasuk alim besar yang berharta dan terkenal dengan kedermawanannya.
Sebagai seorang pendidik, Abu Hanifah mempunyai metode yang baik dalam menerapkan pelajarannya kepada muridnya. System yang dipakai Abu hanifah dalam memberikan pelajaran kepada murid-muridnya, bukan dengan cara menyuapinya atau memompakan ilmu kepada mereka, karena cara itu dianggap mematikan daya ingat seseorang . beliau mengembangkan metode bimbingan yakni menuntun atau membimbing murid supaya berkembang sebagaimana wajarnya.
D.    Imam Syafi’i
Nama asli imam syafi’iadalah Muhammad Abu Abdillah Bin Idris Bin Abbas Bis Usman Bin Syafi’I. ia masih keturunan Nabi Muhammad SAW dari moyangnya Abdimnaf sementara ibunya bernama Fatimah dari keturunan Ali Bin Abi Tahlib, Syafi’I dilahirkan pada bulan Rajab pada tahun 150 H. di Khuzah di daerah Palestina, dan wafat pada tanggal 28 Rajab tahun 204 H, dalamusia 54 tahun akibat penyakit yag dideritanya dan pendarahan terus-menerus pada anusnya.
Syafi’I belajar Fiqh kepada muslim ibn Khalid al-Zajiy seorang Muftih Makkah dan belajar hadis pada Sufyan Ibn ‘Uyainah di Makkah. Kemudian ia pergi ke Madinah dan menjadi murid Imam Malik serta mempelajari al-Muwathtah yang telah dihafalnya, sehingga Imam Malik melhiat bahwa Imam Syafi’I termasuk orang yang cerdas dan kuat ingatanya.
Imam syafi’I adalah seorang yang sangat tekun dan bersemangat dalam menuntut ilmu hal ini dapat dilhat dari riwayat hidupnya bahwa ia tidak pernah merasa lelah dan bosan dalam menunut ilmu karena ia memandang bahwa ilmu pengetahuan itu sangat berharga sekali, lebih mulia dan lebih mahal dibandingkan dengan segala yang ada di permukaan aam ini. Ini,menunjukan bahwaimam syafi’I merupakan sosok yang patut diikuti dalam kegigihanya menuntut ilmu. Dalam hal inni, sesuai denngan konseppendidikan islam mewajibkan setiap umat islam untuk menuntut ilmu. Imam Syafi’I juga adalah orang yang pertama membicarakan tentang qiyas dengan patokan dan kaidah-kaidahnya dan menjelaskan asas-asasnya. Disinilah Syafi’I memilih tampil kedepan memilih metode qiyas serta memberikan kerangka teoritis dan metodologinya dalam bentuk kaidah rasional namun tetap praktis.

E.     Ibnu Maskawaih
Nama lengkap beliau adalah Ahmad Ibn Muhammad Ibn Ya’kub Ibn Miskawaih. Ia lahir pada tahun 320 H/932 M. di Rayy, dan meninggal di Isfahan pada tanggal 9 shoffar tahun 412 H/16 februari 1030 M. Ia hidup pada masa pemerintahan dinasti Buaihi (320-450 H/932-1062 M) yang sebagian besar pemukanya bermadzhab Syi’ah.
Pada dasarnya untuk memahami pemikiran Ibn Miskawaih tentunya tidak bisa dilepaskan dari konsepnya tentang manusia dan akhlaq. Berikut uraianya :
1.      Konsep Manusia
Ibnu Maskawaih memandang bahwa manusia sebagai makhluq yang memiliki macam-macam daya. Yaitu :
a.       Daya nafsu (Sebagai daya terendah yang berasal dari unsur materi)
b.      Daya berani (Sebagai daya tengah yang juga berasal dari unsur materi )
c.       Daya berpikir (Sebagai daya tertinggi yang berasal dari ruh Tuhan)
Dari beberapa pembagian tentang manusia tersebut, ibn Miskawaih mempunyai pandangan bahwa daya nafsu dan daya berani akan hacur bersama badan, akan tetapi daya berpikir tidak akan pernah mengalami kehancuran.
2.      Konsep Akhlaq
Konsep akhlaq yang di tawarakan oleh Ibn Miskawaih lebih di dasarkan pada doktrik jalan tengah. Dengan pengertian bahwa jalan tengah adalah dengan keseimbangan, moderat, harmoni, utama, atau posisi tengah diantara dua ekstrem. Akan tetapi Ibn Miskawaih lebih menitik beratkan pada posisi tengah antara ekstrem kelebihan dan ekstreem kekurangan masing-msing jiwa manusia. Dari keterangan diatas dapat ditarik sebuah pemahaman bahwa ibn Miskawaih lebih memberi tekanan pada pribadi.
Menurut Ibn Miskawaih, jiwa manusia di bagi menjadi menjdi tiga, yakni :
a.       Al-bahimiyyah, yaitu menjaga diri dari perbuatan dosa dan maksiat
b.      Al-ghadabiyah, yaitu kebernian yang diperhitungkan dengan masak untung ruginya.
c.       An-nathiqah. Yaitu kebijaksanaan.
Ibn Miskawaih menegaskan bahwa setiap keutamaan memiliki dua sisi yang ekstreem. Yang tengah bersifat terpuji dan yang ekstrem bersifat tercela.
3.      Konsep Pendidikan
3.1.Tujuan Pendidikan Akhlaq
Adapun tujuan pendidikan akhlaq adalah terwujudya sikap batin yang mampu mendorong secara spontan untuk melahirkan perbuatan yang baik. Sehingga mencapai kesempurnaan dan memperoleh kebahagiaan sejati.
3.2.Materi Pendidikan Akhlaq
Untuk mencapai tujuan yang di rumuskan oleh ibn maskawaih tentunya ada beberapa hal yang perlu dipelajari dan dipraktekkan. Sejalan dengan pemikiran tersebut, Ibn maskawaih menyebutkan tiga pokok yang dapat dipahami sebagai meteri pendidikan akhlaqnya, yakni :
a.       Hal-hal yang wajib bagi kebutuhan manusia
b.      Hal-hal yang wajib bagi jiwa
c.       Hal-hal yang wajib bagi hubunganya dengan manusia.
3.3.Pendidik dan Anak Didik
Keberadaan pendidik (Guru) merupakan instrumen yang sangat penting, begitupun keberadaan anak didik. Keduanya dapat menciptakan sinergitas untuk membangun pendidikan. Akan tetapi, Ibn Maskawaih juga menerangkan bahwa keberadaan orang tua merupakan bagian dari instrumen pendidikan yang penting pula.
Terkait dengan pendidik, Ibn Maskawaih menempatkan posisi yang tinggi itu adalah guru yang berderjat mu’allim al-misal, al-hakim, atau al-mu’allim al-hikmat.
3.4.Lingkungan Pendidikan
Seperti yang telah dikemukakan sebelumnya, Ibn Maskawaih Berpendapat bahwa usaha untuk mencapai kebahagiaan tidak dapat dilakukan sendiri, tetapi harus bersama atas dasar saling menolong dan saling melengkapi. Maka, sebagai makhluk sosial, manusia memerlukan kondisi yang baik diuar dirinya, yakni lingkungan. Karena lingkungan yang baik akan turut serta dalam menentukan proses pendidikan.
3.5.Metodologi Pendidikan
Dalam hal ini Ibn Maskawaih lebih menitik beratkan pada metodologi perbaikan akhlaq. Seperti beberapa metode yang di ajukan oleh Ibn Maskawaih dalam mencpai akhlaq yang baik, yaitu :
a.       Adanya kemauan yang bersungguh-sungguh untuk berlatih terus menerus dan menahan diri untuk memperoleh keutamaan dan kesopanan yang sebenarnya sesuai dengan keutamaan jiwa.
b.      Dengan menjadikan semua pengetahuan dan pengalaman orang lain sebagai cermin bagi dirinya. Tentunya pengetahuan dan pengalaman yang baik.
F.     Muhammad Abduh
Muhammad Abduh dilahirkan di desa mahallat Nasr Mesir pada Tahun  1894. Ayahnya bernama Abduh Hasan Khairullah, berasal dari Turki. Muhammad Abduh lahir dan tumbuh dibawah asuhan ibu bapaknya yang tidak pernah mengenal pendidikan sekolah secara formal, namun memiliki jiwa keagamaan yang teguh dan taat.
Pendidikan Muhammad Abduh dimulai dengan membaca dan menulis dirumah. Kemudian beliau belajar tajwid ke thanta setelahnya beliau hafal Al-Qur’an guna untuk meluruskan bacaannya. Namun pada waktu itu beliau meninggalkan thanta dan bertekad tidak akan kembali lagi kesana dan tidak akan membaca-baca buku lagi dikarenakan beliau merasa tidak puas dengan metode pengajaran yang diterapkan para guru yang memaksakan murid-murid dengan kebiasaan menghafal istilah-istilah.
Muhammad Abduh adalah seorang pembaharu dalam segala bidang, termasuk bidang pendidikan yang menjadi perhatian utama beliau. Beliau merupakan pembaharu yang penuh dengan kegigihan dalam menjalankan berbagai misi pembaharuannya, meskipun hal itu dilakukan dengan berbagai tantangan  terutama situasi dan kondisi social yang kolot dan enggan menerima perubahan di satu sisi, dan kondisi politik yang tidak menentu disisi lain, namun hal itu tidak pernah menyurutkan niat Muhammad Abduh untuk melakukan upaya dalam segala bidang termasuk dalam bidang pendidikan.
Khusus pembaharuannya dalam bidang pendidikan, Muhammad Abduh adalaah seorang pencetus ide-ide pendidikan yang bercorak idealis. Hal ini dapat terlihat dalam usahanya menyeimbangkan dan menselaraskan secara proposional pendidikan keagamaan dan sains di sekolah-sekolah tradisional dan modern. Disamping upaya pemberdayaan pendidikan islam yang menekankan pada keseimbangan  antara dua aspek, yakni aspek kognitif dan afektif.

G.    K.H. Ahmad Dahlan
K.H. Ahmad Dahlan dilahirkan di Yogyakarta pada tahun 1869 M. Dengan nama kecilnya Muhammad Darwis, putradari K.H. Abu Bakar bin Kiyai Sulaiman , khatib dimasjid besar kesultanan Yogyakarta, daan ibunya adalah putrid dari H. Ibrahim seorang penghulu. Secara tadisional, seseorang akan dipengaruhi oleh factor geografis yang menunjukan bahwa latar belakang seseorang akan berpengaruh terhadap proses pendewasaanya. Kampung Kauman sebagai tempat kelahiran Darwis  terkenal sebagai daerah lingkungan santri .
K.H. Ahmad Dahlan berperan dalam mengembangkan pendidikan islam dalam pendekatan-pendekatan yang lebih modern pengalamannya sejak dipesantren hingga studi di Mekkah, memungkinkan untuk melakukan pembaharuan dan pergerakan Islam di Indonesia.ia sendiri berkepentingan dengan pengembangan pendidikan Islam karena melihat banyaknya pengalaman keislaman yang menurutnya tidak sesuai dengan ajaran al-Qur’an dan al- Hadis. Sebelum mendirikan Muhammadiyah, beliau telah berjuang dalam perkumpulan jam’iyah al-Khair,Budi Utomo dan Syarekat Islam.
Ia termasuk salah seorang ulama yang mula-mula mengajar agama islam di sekolah islam negeri seperti sekolah guru (KweekSchool) di Jetis Yogyakarata dan Mosia di Magelang. Puncak dari kegiatan dan perjuangan beliau adalah dengan menidirkan Muhammadiyah. Atas ide yang diberikan K.H. Ahmad Dahlan untuk menyebarluaskan agama yang telah dirasakan buahnya,maka akhirnya perkumpulan-perkumpulan diatas banyak yang meleburkan dirinya kedalam Muhammadiyah sebagai ranting-rantingnya. Adapun tujuan menidrikan organisasi ini adalah untuk memebebaskan umat islam dari kebekuan dalam segala bidang kehidupanya dan praktek-praktek agama yang menyimpang dari kemurnian ajaran islam.
H.    Hasyim Asya’Ari
KH.Hasyim Asy’ari adalah putra dari Asy’ari bin Wahib bin Abdul Halim yang lahir dipondok Gedang des Kandan, sebuah desa disebelah selatan kota Jombang Jawa Timur pada hari selasa kliwon pada tanggal 24 Dzulqa’dah 1287 H, bertepatan pada tanggal 14 Febuari tahun 1871 M. KH. Hasyim Asy’ari meninggal pada  tanggal 7 Ramadhan 1366 H dirumahnya di Tebu Ireng Jombang dan dikebumikan didalam komplek pesantren yang dibangunya.
Tahun 1309H/1893 M. ia bersama adiknya yang bernama Amir berngkat kemekkah untuk “mengaji” selama tujuh tahun di tanah suci. Setelah bermukim selama tujuh tahun beliau pulang ketanah airnya Indonesia. Sepulangnya dari Mekkah, beliau mendirikan pesantren Darul Ulum di Tebu Ireng Jombang  tanggal 26 Rabi’ul Awwal 1318 H yang “bercorak” salafiyyah bermadzhab Syafi’iyah, kini pondok tersebut salah satu yang disegani oleh oleh pondok pesantren lainya.
Pemikiran KH. Hasyim Asy’ari adalah mengenai adab pelajar terhadap dirinya sendiri cendrung subyektif , artinya bahwa adab tersebut tidak mesti cocok bagi setiap individu pelajar karena sangat tergantung pada pola hidup dan lingkungan yang mempengaruhinya . sebagai bukti bahwa waktu dan tempat belajar oleh jadi berbeda antarasatu dengan yang lainya. Ada pelajar yang mampu dan menyukai belajar dan tidak dapat belajar bila ia tidak mendengarkan musik secara perlahan. Ada  pula pelajar yang mempunyai kekuatan belajar melalui pendengaran dan melalui penglihatan. Bila ia mendengar maka ia akan mudah menghapalnya dan amat sulit memahami sesuatu yang dibacanya meskipun berulangkali.
I.       Harun Nasution
Harun Nasution di lahirkan pada hari selasa,23 september 1919di Pemantang Siantar, ayahnya bernama Abdul Jabbar Ahmad, seorang ulama Mandailing , Tanah Bato Tapanuli Selatan. Dia diangkat oleh pemerintah Belanda sebagai Kepala Agama merangkap hakim Agama yang sama.
Pada tahun 1938 di berangkat ke Mesir dan meneruskan studinya di Universitas al-Azhar (Fakultas Ushuluddin), di Universitas Harun tidak mendalami islam tetapi ilmu pendidikan dan ilmu-ilmu social. Harun identik dengan tokoh yang kontroversial, bukan saja zamanya melainkan pada tahun 1990-an. Harun memperkenalkan pemikiran Mu’tazilah pada saat kaum muslimin di Indonesia berpegang teguh pada teologi tradisionil, Asy’ariyah. Kontan saja pemikiran ini dianggap ”menyimpang” dan tuduhan kafirpun disandangnya
Pendidikan agama merupakan unsur penting dalam pembentukan dan pembinaan kepribadianseseorang. Pendidikan agama dapat berlangsung di tiga tempat yaitu: keluarga sekolah dan masyarakat. Kepribaian yang terjalin dalam niali-nilaiagamaakan membahas akhlak/moral yang baik yaitu :
a)      Hubungan antara agama dan moral
b)      Pendidikan moral dilingkungan keluarga
c)      Pendidikan moral di lingkungan sekolah

















BAB III
PENUTUP
Banyak sekali terdapat pemikiran-pemikiran tokoh muslim di dunia ini mengenai pendidikan, khususnya pendidikan islam. Berikut tokoh-tokoh pendidikan islam:
A.    Al-Ghazali
Konsep Pendidikan Menurut Imam Al-Ghazali dalam memahami suatu sistem pendidikan, tentu tidak terlepas dari filsafat, rumusan dan langkah-langkah serta metode-metode tertentu yang didasari seseorang untuk mencapai suatu tujuan.
B.     Ibnu Sina
Konsep pendidikan yang ditawarkanya mementingkan unsur psikologi anak didik. Ini dapat dilihatdari seorang Ibnu Sina seorang filosofyang memeilikikonsep tentang jiwa
C.     Imam Hanafi
Dalam mengajar, beliau menerapkan metode bimbingan, yakni menuntun dan membimbing murid.
D.    Imam Syafi’i
seorang yang sangat tekun dan bersemangat dalam menuntut ilmu dan tidak pernah lelah dan bosan dalam menuntut ilmu karena ilmu itu sangat berharga dan mulia disbanding apa yang ada di dunia ini.
E.     Ibnu Maskawaih
F.      Muhammad Abduh
seorang pencetus ide-ide pendidikan yang bercorak idealis. Hal ini dapat terlihat dalam usahanya menyeimbangkan dan menselaraskan secara proposional pendidikan keagamaan dan sains di sekolah-sekolah tradisional dan modern.
G.    K.H. Ahmad Dahlan
H.    Hasyim Asya’Ari
I.       Harun Nasution
Pendidikan agama merupakan unsur penting dalam pembentukan dan pembinaan kepribadian seseorang.


[1] Syekh Muhammad Al-Ghazali. Al-Ghazalli Menjawab 40 soal islam Abad 20. Mizan. Bandung.  1983
[2] Suwito dan Fauzan. Sejarah Pemikiran Para Tokoh Pendidikan. Angkasa. Bandung. Hal.109-126

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar