Senin, 12 November 2012

kewajiban belajar mengajar


PENDAHULUAN


            Segala puji bagi Allah. Dialah yang telah menurunkan Al-qur’an kepada hamba-Nya tanpa sedikitpun mengandung kesalahan. Kitab yang mampu mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya dengan izin Rabbnya.
            Shalawat dan salam semoga selalu dilimpahkan kepada Rasulullah Saw, penerima Alkitab yang berisi penjelasan tentang segala sesuatu, petunjuk, rahmat, dan kabar gembira bagi kaum muslimin. Sunah dan sirahnya merupakan penjelasan teoritis sekaligus aplikasi ilmiah atas Al-qur’an, kitab yang diturunkan kepada manusia. Tentu saja dengan tujuan agar mereka dapat memahaminya.
            Allah Swt mewajibkan kepada umat manusia khususnya umat muslim untuk menuntut ilmu dan pengetahuan atau yang lebih terkenal dengan belajar. Kita senantiasa disekolah selalu belajar mengenai ilmu-ilmu tentang ilmu dunia dan kebanyakan ilmu-ilmu agama sangat sedikit dipelajari padahal itu penting bagi hidup kita untuk mengetahui hakikat hidup. Misalnya ilmu agama, ilmu Al-qur’an khususnya tafsir yang mengupas tuntas mengenai isi Al-qur’an. Termasuk di dalamnya mengenai belajar dan mengajar sangat banyak ayat Al-qur’an yang membahas mengenai masalah tersebut. Apalagi kita selaku pelajar muslim dan muslimah harus lebih mengetahui, mengerti dan memehami mengenai belajar mengajar dalam konteks Al-qur’an yaitu yang menjadi kitab sucinya umat yang di ridhoi Allah.
            Selain Al-qur’an menjelaskan kisah-kisah para sahabat Nabi terdahulu, Alqur’an juga membahas mengenai belajar mengajar pada saat itu, apalagi wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw mengenai belajar yaitu menyuruh beliau untuk membaca, yang tercantum dalam surat Al-a’laq ayat pertama. Agar lebih jelas selaku penulis makalah ini akan memaparkan mengenai belajar dan  mengajar dalam Al-qur’an, semoga bermanfaat bagi semua khususnya bagi penulis.






A.    PEMBAHASAN
Kewajiban Belajar Mengajar

1.      Q.S. Al-a’laq ayat 1-5
ù&tø%$# ÉOó$$Î/ y7În/u Ï%©!$# t,n=y{ ÇÊÈ   t,n=y{ z`»|¡SM}$# ô`ÏB @,n=tã ÇËÈ   ù&tø%$# y7š/uur ãPtø.F{$# ÇÌÈ   Ï%©!$# zO¯=tæ ÉOn=s)ø9$$Î/ ÇÍÈ   zO¯=tæ z`»|¡SM}$# $tB óOs9 ÷Ls>÷ètƒ ÇÎÈ  

Artinya :    Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam,
Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
Asbabun nuzul                                                   
   Surat al-alaq terdiri atas 19 ayat, termasuk golongan surat-surat makiyah. Ayat  1-5 dari surat ini adalah ayat-ayat Al-qur’an yang pertama sekali diturunkan, yaitu  pada saat Nabi Muhammad Saw berada di Gua Hira dan menjadi wahyu pertama, surat ini diturunkan melalui malaikat jibril yang datang langsung kepada Nabi Muhammad dan menyuruh beliau membaca, tetapi beliau menjawab “ Aku tidak bisa membaca”, malaikat jibril terus menyuruh Nabi muhammad untuk membaca sampai ketiga kalinya tetapi beliau tetap menjawab bahwa “ Aku tidak bisa membaca”.
Surat ini dinamai “Al-alaq” ( segumpal darah ), diambil dari perkataan “alaq” yang terdapat pada ayat ke 2 surat ini. Surat ini dinamai juga dengan iqra’ atau “al-qalam”. Dan inilah asbabunnuzul surat al-alaq ayat 1-5 ini.
Tafsir
   Patut di ingat, ayat Al-qur’an yang pertama kali diturunkan ke hati Rasulullah Saw menunjuk kepada keutamaan ilmu pengetahuan, yaitu dengan memerintahkannya membaca, sebagai kunci ilmu pengetahuan juga sebagai jendela dunia untuk melihat apa yang terjadi dalam dunia ini dan sebagai alat transformasi ilmu pengetahuan.
   Surat Al-a’laq ini, di dalamnya Allah telah menyebut nikmat-Nya dengan mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya. Hal itu menunjukkan akan kemuliaan belajar dan ilmu pengetahuan. Dengan begitu Allah sangat mewajibkan kepada umat manusia untuk belajar dan menuntut ilmu, salah satunya yaitu dengan membaca karena dengan hal tersebut kita dapat menambah wawasan yang baru scara keseluruhan. Oleh karena itu, Allah Swt memulai surat dengan memerintahkan untuk membaca, sehingga yang tadinya kita tidak tahu menjadi tahu setelah membaca itu. Lalu menciptakan manusia secara khusus dan umum.
   Perintah untuk “membaca” dalam ayat ini disebut dua kali;perintah kepada Rasul Saw dan selanjutnya perintah kepada seluruh umatnya. Membaca adalah sarana untuk belajar dan kunci ilmu pengetahuan, baik secara etimologis berupa membaca huruf-huruf yang tertulis dalaam buku-buku, maupun terminologis, yakni membaca dalam arti yang lebih luas. Maksudnya membaca alam semesta ( ayatul kaun ).
   Term “kalam” disebut dalam ayat ini lebih memperjelas makna hakiki membaca, yaitu sebagai alat belajar. Dengan membaca seolah kita telah membuka pintu jendela  dunia dalam wawasan ilmu pengetahuan yang berkembang pada zaman sekarang ini. Membaca merupakan hal penting yang harus dilakukan dan harus dijadikan sebagai suatu hobi yang menyenangkan karena apabila kita ingin sukses dan berhasil laksanakanlah semuanya berawal dari hal-hal yang kita senangi dan harus berjalan secara isiqomah dan ikhlas.
   Dalam surat al-Qalam, yang termasuk dalam surat-surat yang pertama diturunkan, Allah Swt bersumpah dengan kata yang amat penting ini, yaitu kalam. Dengannya, ilmu dapat ditransfer dari individu ke individu, dari generasi ke generasi, atau dari umat ke umat yang lain.
 Makna yang terkandung dalam surat al-alaq ayat 1-5 ini adlah bahwa wahyu pertama ini menjadi awal rahmat dan kasih sayang Allah Swt, penciptaan manusia dari segumpal darah, dan Allah Swt mengajarkan kepada manusia sesuatu yang belum diketahui oleh manusia dengan perantaraan kalam atau dengan metode baca tulis.
   Muhasabah surat al-alaq ayat 1-5 ini adalah dengan surat Al-qalam ayat 1 yaitu :
úc 4 ÉOn=s)ø9$#ur $tBur tbrãäÜó¡o ÇÊÈ 
1.   Nun[1489], demi kalam dan apa yang mereka tulis,
[1489]  ialah huruf-huruf abjad yang terletak pada permulaan sebagian dari surat-surat Al Quran seperti: Alif laam miim, Alif laam raa, Alif laam miim shaad dan sebagainya. diantara ahli-ahli tafsir ada yang menyerahkan pengertiannya kepada Allah Karena dipandang termasuk ayat-ayat mutasyaabihaat, dan ada pula yang menafsirkannya. golongan yang menafsirkannya ada yang memandangnya sebagai nama surat, dan ada pula yang berpendapat bahwa huruf-huruf abjad itu gunanya untuk menarik perhatian para Pendengar supaya memperhatikan Al Quran itu, dan untuk mengisyaratkan bahwa Al Quran itu diturunkan dari Allah dalam bahasa Arab yang tersusun dari huruf-huruf abjad. kalau mereka tidak percaya bahwa Al Quran diturunkan dari Allah dan Hanya buatan Muhammad s.a.w. semata-mata, Maka cobalah mereka buat semacam Al Quran itu.
2.      Q.S. At-taubah ayat 122
** $tBur šc%x. tbqãZÏB÷sßJø9$# (#rãÏÿYuŠÏ9 Zp©ù!$Ÿ2 4 Ÿwöqn=sù txÿtR `ÏB Èe@ä. 7ps%öÏù öNåk÷]ÏiB ×pxÿͬ!$sÛ (#qßg¤)xÿtGuŠÏj9 Îû Ç`ƒÏe$!$# (#râÉYãŠÏ9ur óOßgtBöqs% #sŒÎ) (#þqãèy_u öNÍköŽs9Î) óOßg¯=yès9 šcrâxøts ÇÊËËÈ
122. Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka Telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.
Asbabun nuzul
Surat at-taubah terdiri dari 129 ayat termasuk golongan surat-surat Madaniyah. Surat ini dinamakan “At-taubah” yang berarti pengampunan berhubungan kata “At-taubah” berulang kali disebut dalam surat ini. Dinamakan juga dengan “Baraah” yang berarti berlepas diri yang disini maksudnya pernyataan pemutusan perhubungan, disebabkan kebanyakan pokok pembicaraannya tentang pernyataan pemutusan perjanjian damai dengan kaum musyrikin.
Berlainan dengan surat-surat yang lain, maka pada permulaan surat ini tidak terdapat basmallah, karena surat ini adalah pernyataan perang total dengan arti bahwa segenap kaum muslimin dikerahkan untuk memerangi seluruh kaum musyrikin, sedangkan basmallah bernafaskan perdamaian dan cinta kasih Allah Swt.
Surat ini diturunkan sesudah Nabi Muhammad Saw kembali dari peperangan Tabuk yang terjadi pada tahun 9 H. Pengumuman ini disampaikan oleh Sayyidina Ali ra. Pada musim haji tahun itu juga.
Sedangkan asbabunnuzul surat at-taubah ayat 122 menjelaskan bahwa pada saat itu banyak orang-orang mukmin yang semuanya pergi untuk berperang. Hal tersebut menjadikan banyak orang-orang mukmin yang melupakan suatu kewajiban mereka dalam menuntut ilmu dan memperdalam pengetahuan agama mereka. Walaupun berperang di jalan Allah wajib karena membela negara dan agama, tetapi hendaklah ada sebagian yang ingat bahwa menuntut ilmu dan pengetahuan juga merupakan kewajiban umat muslim, dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali padanya, supaya mereka menjaga dirinya.
Oleh karena itu turunlah ayat 122 ini untuk mengingatkan  kepada kaum muslimin saat itu. Maka hendaklah ada segolongan kaum mukmin untuk memperdalam ilmu dan pengetahuan mereka tentang agama dari segolongan kaum yang pergi ke medan perang.
Tafsir
Ayat tersebut menjelaskan  mengenai metode belajar secara langsung ( lisan ) yaitu mengahadap langsung kepada sang guru dengan jalan mendengarkan, memperhatikan, memahami yang dijelaskan oleh sang guru serta hadir di majelisnya. Berkaitan dengan itu, Al-quran mengajak kepadase kelompok manusia untuk mencari ilmu pengetahuan dan tafaqquh fid-din. Mengingat dan terus mensyukuri nikmat yang telah Allah berikan kepada kita, tanpa nikmat-Nya hidup kita ini tidak akan ada artinya.Digunakan term “al-nafir” dalamŸxÿtRwöqn=sù seperti digunakan dalam konteks jihad, mengisyaratkan bahwa mencari ilmu adalah salah satu bentuk jihad dijalan Allah. Rasulullah Saw juga bersabda dalam haditsnya yang diriwayatkan oleh imam Tirmidzi: “barang siapa yang keluar untuk mencari ilmu, maka ia berada di jalan Allah hingga kembali”. Yang dimaksud berangkatnya sekelompok  dari umat islam ini untuk memperdalam agama islam adalah agar mereka menghadap para ulama rabbani yang terpercaya, yaitu mereka yang mengamalkan dan mengajarkan ilmunya. Oleh karena itu, ilmu yang telah dimiliki harus di amalkan karena ilmu tanpa amal tidak akan manfaat ilmunya. Mereka mendekat dan menghadap  secara langsung kepada sang guru, menanyakan apa yang belum diketahui dan mendiskusikan yang diragukan.
Oleh karena itu, para salafussaleh  mensyaratkan dalam mencari ilmu hendaklah mendatangi para ulama dan hadir dalam majlis-majlis ilmu. Belajar tidak cukup hanya dengan membaca buku-buku tanpa menghadap langsung dengan sang guru. Karena apabila ada kesalah fahaman atau kurang memahami, seorang guru akan membimbing dan meluruskan kesalahfahaman tersebut. Oleh sebab itu, ada sebuah nasihat yang terkenal dari para ulama kepada murid-muridnya, “janganlah kalian mengambil ilmu pengetahuan dari tulisan saya dan jangan membaca Al-quran dari mushaf saya”.
3.      Q.S. Al-imran ayat 190-191
žcÎ) Îû È,ù=yz ÏNºuq»yJ¡¡9$# ÇÚöF{$#ur É#»n=ÏF÷z$#ur È@øŠ©9$# Í$pk¨]9$#ur ;M»tƒUy Í<'rT[{ É=»t6ø9F{$# ÇÊÒÉÈ   tûïÏ%©!$# tbrãä.õtƒ ©!$# $VJ»uŠÏ% #YŠqãèè%ur 4n?tãur öNÎgÎ/qãZã_ tbr㍤6xÿtGtƒur Îû È,ù=yz ÏNºuq»uK¡¡9$# ÇÚöF{$#ur $uZ­/u $tB |Mø)n=yz #x»yd WxÏÜ»t/ y7oY»ysö6ß $oYÉ)sù z>#xtã Í$¨Z9$# ÇÊÒÊÈ  
190. Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.
191.  (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan Ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, Maka peliharalah kami dari siksa neraka.
Asbabun nuzul
Surat Al-imran yang terdiri dari 200 ayat ini adalah surat “madaniyah”. Dinamakan Al-imran karena memuat kisah keluarga imran yang didalam kisah itu disebutkan kelahiran Nabi Isa as. Kenabian dan beberapa mukjizatnya, serta disebut pula kelahiran Maryam putera Imran, ibu dari Nabi Isa as.
Tafsir
ÎûcÎ) È,ù=yz ÏNºuq»yJ¡¡9$# ÇÚöF{$#u
Apabila dibandingkan dengan makhluk-makhluk Allah Swt yang lainnya, langit dan bumi adalah ciptaan Allah yang paling besar dan paling tampak pada pandangan mata. Demikian juga petunjuk adanya kebesaran Allah sebagai dzat pencipta dari proses penciptaan dan keberadaan kedua makhluk tersebut, sangat jelas dan terang bagi orang yang dengan maksimal mendayagunakan akalnya. Salah satu keajaiban langit yang sampai kini masih tetap merupakan misteri dikalangan para ilmuwan adalah jumlah bintang-bintang dari dulu sampai kapanpun tetap akan merupakan sebuah misteri.
Apabila manusia menggunakan potensi akalnya dengan baik, sebetulnya tidak perlu terlalu jauh memikirkan langit dan bumi yang sudah pasti tidak akan ditemukan jawaban ilmiahnya. Tetapi marilah kita perhatikan sehelai daun pada sehelai pohon! pada garis tengah daun tersebut terdapat urat besar . Dari urat besar itu bercabang lagi urat-urat kecil yang menyebar kebagian samping kiri – kanan daun. Lalu, setiap urat-urat kecil itu mengembangkan cabng-cabangnya yang bahkan tidak terlihat oleh mata telanjang, tetapi jelas ada dan di dalamnya ada kehidupan alam daun-daunan yang tumbuh secara teratur. Siapakah yang mengatur kehidupan daun tersebut? Dialah Dzat yang Maha kuasa dan Maha mengetahui, Allah ‘Azza wa jalla. Apabila makhluk daun-daunan tersebut  dibandingkan dengan langit dan bumi, makhluk itu seakan tidak ada dan nyaris luput dari perhatian manusia.

4.      Q.S. Al-ankabut ayat 19-20
öNs9urr& (#÷rttƒ y#øŸ2 äÏö7ムª!$# t,ù=yø9$# ¢OèO ÿ¼çnßÏèム4 ¨bÎ) šÏ9ºsŒ n?tã «!$# ׎Å¡o ÇÊÒÈ   ö@è% (#r玍ŠÎû ÇÚöF{$# (#rãÝàR$$sù y#øŸ2 r&yt/ t,ù=yÜø9$# 4 ¢OèO ª!$# à×Å´Yムnor'ô±¨Y9$# notÅzFy$# 4 ¨bÎ) ©!$# 4n?tã Èe@à2 &äóÓx« ֍ƒÏs% ÇËÉÈ
19.  Dan apakah mereka tidak memperhatikan bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, Kemudian mengulanginya (kembali). Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.
20.  Katakanlah: "Berjalanlah di (muka) bumi, Maka perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, Kemudian Allah menjadikannya sekali lagi. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Asbabun nuzul
Surat al-ankabut terdiri atas 69 ayat, termasuk golongan surat-surat makiyah. Dinamai Al-ankabut berhubung terdapatnya perkataan al-ankabuut yang berarti laba-laba pada ayat 41 surat ini, dimana Allah mengumpamakan penyembah berhala-berhala itu, dengan laba-laba yang percaya kepada kekuatan rumahnya sebagai tempat ia berlindng dan tempat menjerat mangsanya. Padahal kalau dihembus angin atau ditimpa oleh suatu barang yang kecil saja rumah itu akan hancur. Begitu pula halnya dengan kaum musyrikin yang percaya kepada kekuatan sembahan – sembahan mereka sebagai tempat berlindung dan tempat meminta sesuatu yang mereka ingini, padahal sembahan-sembahan mereka itu tidak mampu sedikitpun menolong mereka dari adzab Allah waktu di dunia, seperti yang terjadi pada kaum Nuh, kaum Ibrahim, kaum Luth, dan kaum Syu’aeb. Apalagi menghadapi Adzab Allah nanti di akhirat, sembahan-sembahan mereka itu lebih tidak mampu menghindarkan dan melindungi mereka.
Tafsir
Pada ayat 19 cenderung di fahami sebagai komentar Allah Swt, karena redaksinya menggunakan bentuk personal ketiga. Ini  mengesankan kejauhan mereka dari hadirat Illahi dan bahwamereka tidak wajar memperoleh kehormatan diajak berdialog dengan Allah.
Kemudian ayat 20 sudah banyak penjelasan yang dikemukakan melalui ayat-ayat lalu guna membuktikan kekuasaan Allah dan keniscayaan hari kiamat. Kaum musyrikin belum juga menyambut baik penjelasan itu, karena itu, ayat ini memerintahkan Nabi Muhammad Saw bahwa : “katakanlah kepada mereka : kalau kamu belum juga mempercayai keterangan diatas antara lain yang dismpaikan oleh leluhur kamu dan Bapak para Nabi yakni Ibrahim as. maka berjalanlah dimuka bumi kemana saja kamu melangkah. Perhatikanlah bagaimana Allah memulai penciptaan makhluk yang beraneka ragam, manusia ,binatang, tumbuh-tumbuhan dan sebagainya. Kemudian Allah menjadikannya dikali lai setelah pnciptaan pertam itu, sesungguhnya Allah maha kuasa atas segala sesuatu”

KESIMPULAN

            Ayat-ayat diatas menjadi acuan kita yang berhubungan dengan kewajiban belajar dan mengajar. Terdapat beberapa sumber yang tentunya harus kita kaji lebih dalam lagi karena tafsir kitab-kitab memliki pemahaman penafsiran yang berbeda.
            Pokok-pokok dari ayat-ayat yang telah dibahas adalah tentang pentingnya mencari ilmu serta mengamalknanya. Karena ayat-ayat tersebut berkenaan dengan kewajiban kita sebagai umat manusia untuk belajar dan mengajar. Allah telah membuktikan kekuasaan kepada umat manusia, sehingga kita harus bisa mensyukuri nikmat dan mentafakuri akan nikmat dan kebesaran Allah Swt.



DAFTAR PUSTAKA

1.       Al maraghi, Ahmad Mustafa. 1993. Terjemah Tafsir Al-maraghi vol.30 hal.346-349. CV. Semarang : Toha Putra
2.      Shihab, M. Quraisy. 2003. Tafsir Al-misbah. Jakarta : Lentera hati
3.      Qardhawi, Yusuf. 1998. Al-quran berbicara tentang akal dan ilmu pengetahuan. Jakarta : Gema insani press
4.      Gojali, nanang. 2004. manusia, pendidikan dan sains. Jakarta : PT.Rineka cipta
5.      Mushaf Ar-Rusydi. 2006. Al-qur’an terjemah. Jakarta : Management Cahaya Qur’an

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar