Rabu, 24 Oktober 2012

pengertian dasar psikologi agama


1.    PENDAHULUAN
Manusia tampil dimuka bumi ini sebagai homo religiusyang mempunyai makna bahwa ia memiliki sifat-sifat religius. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya yang paling dasar, manusia mempunyai dorongan dan kekuatan guna mendappatkan keamanan hidup pemenuhan kebutuhan di bidang keagamaan.
Pada hakekatnya manusia adalah makhluk yang spesifik, baik dilihat dari segi fisik maupun nonfisiknya. Ditinjau dari segi fisik, tidak ada makhluk lain yang memiliki tubuh sesempurna manusia. Sementara dari segi nonfisik manusia memiliki struktur ruhani yang sangat membedakan dengan makhluk lain.
Jasmani atau fisik manusia dikaji dan diteliti oleh disiplin anatomi, biologi, ilmu kedokteran maupun ilmu-ilmu lainnya; sedangkan jiwa manusia dipelajari secara khusus oleh psikologi.  Menurut asal katanya, psikologi berasal dari bahasa Yunani kuno, psyche yang berarti jiwa dan logos yang berarti ilmu. Jadi psikologi adalah ilmu tentang jiwa. Para ahli psikologi modern saat ini tidak mengartikan psikologi sebagai ilmu tentang gejala dan aktivitas jiwa manusia. Apa yang dimaksud dengan jiwa (ruh) itu, tidak seorangpun tau dengan sesungguhnya. Jiwa adalah sangat abstrak dan tidak dapat diikuti oleh panca indera[1].
 Firman Allah :
štRqè=t«ó¡our Ç`tã Çyr9$# ( È@è% ßyr9$# ô`ÏB ̍øBr& În1u !$tBur OçFÏ?ré& z`ÏiB ÉOù=Ïèø9$# žwÎ) WxŠÎ=s% 
Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: "Roh itu Termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit".( QS Al-Isra : 85)
Manusia adalah suatu mahluk somato-psiko-sosial dan karena itu maka suatu pendekatan terhadap manusia harus menyangkut semua unsur somatik, psikologik, dan social.
Psikologi secara etimologi memiliki arti “ilmu tentang jiwa”. Dalam Islam, istilah “jiwa” dapat disamakan istilah al-nafs, namun ada pula yang menyamakan dengan istilah al-ruh, meskipun istilah al-nafs lebih populer penggunaannya daripada istilah al-nafs. Psikologi dapat diterjamahkan ke dalam bahasa Arab menjadi ilmu al-nafs atau ilmu al-ruh. Penggunaan masing-masing kedua istilah ini memiliki asumsi yang berbeda.
Psikologi menurut Plato dan Aristoteles adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang hakikat jiwa serta prosesnya sampai akhir.Menurut Wilhem Wundt (tokoh eksperimental) bahwa psikologi merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari pengalaman-pengalaman yang timbul dalam diri manusia , seperti penggunaan pancaindera, pikiran, perasaan, feeling dan kehendaknya.
Menurut Prof. Dr. Zakiah Darajat bahwa psikologi agama meneliti pengaruh agama terhadap sikap dan tingkah laku orang atau mekanisne yang bekerja dalam diri seseorang, karena cara seseorang berpikir, bersikap, bereaksi dan bertingkah laku tidak dapat dipisahkan dari keyakinannya, karena keyakinan itu masuk dalam kostruksi pribadi[2].
Belajar psikologi agama tidak untuk membuktikan agama mana yang paling benar, tapi hakekat agama dalam hubungan manusia dengan kejiwaannya, bagaimana prilaku dan kepribadiannya mencerminkan keyakinannnya. 
Mengapa manusia ada yang percaya Tuhan ada yang tidak, apakah ketidak percayaan ini timbul akibat pemikiran yang ilmiah atau sekedar naluri akibat terjangan cobaan hidup, dan pengalaman hidupnya.
Salah satu cabang ilmu jiwa yang masih muda, ilmu jiwa Agama sampai sekarang masih belum mendapat yang wajar. Masih banyak ahli-ahli jiwa yang tidak mengakui adanya cabang ilmu jiwa, yang berdiri sendiri yang khusus membahas dan menyoroti masalah agama. Namun cabang ilmu jiwa yang masih muda ini tetap hidup dan berkembang untuk meneliti dan menjawab berbagai macam persoalan, yang ada sangkut pautnya dengan keyakinan beragama. Berapa banyaknya peristiwa-peristiwa dan kejadian-kejadian yang sukar untuk dimengerti tanpa menghubungkannya dengan agama.
Untuk menjawab semua persoalan-persoalan yang berhubungan dengan keyakinan itulah, maka ilmu jiwa agama perlu meneliti dan menelaah kehidupan beragama pada seseorang dan mempengaruhi berapa besar pengaruh keyakinan agama tersebut dalam sikap dan tingkah laku serta keadaan hidup pada umumnya. Psikologi agama sangat berpengaruh dan menjadi faktor-faktor yang mempengaruhi keyakinan tersebut.
Dalam hal ini akan dijelaskan bagaimana pengertian psikologi agama yang akan dibahas dalam makalah ini. Penulis berharap ada tujuan akhir yang akan dicapai dalam mempelajari psikologi agama sehingga makalah ini bermanfaat dalam memahami psikologi agama. Penulis juga bertujuan mengajak para pembaca untuk memahami agama dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.


















2.      PEMBAHASAN
·      Pengertian Dasar Psikologi Agama
Pada awalnya, psikologi merupakan cabang dari filsafat, karena filsafat merupakan induk dari segala cabang ilmu.
Dalam tahap selanjutnya psikologi berdiri sebagai cabang ilmu tersendiri dan pengertiannya lebih mengarah pada pengertian tentang ilmu yang mempelajari proses mental yang tampak dalam perilaku. Karena keterbatasan manusia dalam pemahamannya tentang jiwa (ruh), para ahli berbeda pendapat dalam memberikan definisi tentang psikologi. Namun secara umum, psikologi adalah ilmu penggetahuan yang mempelajari tingkah laku dalam berhubungan dengan lingkungannya.
Dalam perkembangan selanjutnya, para ahli melihat bahwa psikologi memiliki keterkaitan dengan masalah-masalah yang menyangkut kehidupan bathin manusia yang dalam, yaitu Agama. Para ahli kemudian memunculkan studi khusus tentang hubungan antara kesadaran agama dan tingkah laku. Zakiah Daradjat misalnya, menampilkan beberapa peristiwa yang sukar dimengerti tanpa dihubungkannya dengan agama. Sebagai contoh ada orang yang tampaknya senang, suka menolong dan bahagia, padahal hidupnya sangat sederhana, makan secukupnya, pakaian sederhana, alat-alat dan perabotan rumah tangganya kurang dari sederhana. Tengah malam ia bangun untuk mengabdi kepada Tuhan, sebelum waktu subuh, ia telah duduk pula ditikar sholatnya. Sebaliknya tidak jarang diijumpai seseorang yang kehidupannya lebih dari cukup, atau boleh dibilang berlebih, tapi dlaam hatinya penuh kegoncangan dan jauh dari kepuasan. Lebih jauh dijelaskan bahwa hubungan antara moral dan agama sebenarnya sangat erat. Biasanya orang-orang yang mengerti tentang agama dan rajin melaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari, moralnya dapat dipertanggungjawabkan. Sebaliknya, orang yang akhlaknya merosot, biasanya keyakinan terhadap agamanya kurang atau tidak ada sama sekali.
Berangkat dari permasalahan-permasalahhan seperti itulah, akhirnya psikologi banyak membahas atau mengkaji tentang agama. Banyak penelitian yang dilakukan untuk mengungkap tingkah laku manusia dalam kaitannya dengan kehidupan beragama[3].
Ketika mengkaji psikologi agama seseorang dihadapkan pada dua kata, yakni “psikologi” dan “agama”. Kedua kata tersebut memiliki pengertian dan penggunaan yang berbeda, meskipun keduanya memilki aspek kajian yang sama yaitu aspek batin manusia[4].
Psikologi agama terdiri dari kata psikologi dan agama. Psikologi berarti studi ilmiah atas gejala kejiwaan manusia. Sebagai kajian ilmiah, psikologi jelas mempunyai sifat teoritik-empirik, dan sistematik. Sementara agama bukanlah ilmu dalam pengrtian kajian ilmiah. Agama merupakan suatu aturan yang menyangkut cara-cara bertingkat laku, berperasaan dan berkeyakinan secara khusus. Setidaknya agama menyangkut ke-ilahi-an. Maksudnya, agama menyangklut segala sesuatu yang bersifat ketuhanan. Sebaliknya psikologi menyangkut manusia dan lingkungannya. Agama bersifat transenden, psikologi bersifat profan. Oleh karena itu, psikologi tidak bisa memasuki wilayah ajaran keagamaan. Alasannya, psikologi dengan watak keprofanannya itu sangat terikat dengan pengalaman dunia, sementara agama merupaka urusan Tuhan yang sudah tentu mengatasi semua pengalaman tersebut.
Disinilah sebenarnya duduk permasalahan timbulnya konflik pada awal kemunculan disiplin psikologi agama. Konflik tersebut timbul karena kurangnya pemahaman terhadap hakekat psikologi agama. Memang telah disadari merumuskan definisi suatu ilmu yang mencakup dua  substansi ilmu yang berbeda watak tidaklah mudah. Bila pendefinisian tersebut keliru, bisa jadi akan menimbulkan kesan penggerogokan wilayah agama yang transenden. Ini jelas akan menimbulkan kemarahan besar dari kalangan ahli agama[5]. 
Sebelum kita membahas tentang Agama Dan Psikologi Agama, ada baiknya kita menengok kebelakang dulu untuk mengetahui tentang pengertian masing-masing kata baik Agama, Psikologi maupun Psikologi Agama menurut para ahli.
Agama berasal dari kata latin religio, yang dapat berarti obligation  atau kewajiban.
Agama dalam Encyclopedia of Philosophy adalah kepercayaan kepada Tuhan yang selalu hidup, yakni kepada jiwa dan kehendak ilahi yang mengatur alam semesta dan mempunyai hubungan moral dengan umat manusia (James Martineau)[6].
Agama seseorang adalah ungkapan dari sikap akhirnya pada alam semesta, makna, dan tujuan singkat dari seluruh kesadarannya pada segala sesuatu, (Edward Caird)[7].
Agama hanyalah upaya mengungkapkan realitas  sempurna tentang kebaikan melalui setiap aspek wujud kita (F.H Bradley)[8].
Agama adalah pengalaman dunia dalam seseorang tentang ke-Tuhanan disertai keimanan dan peribadatan[9].
Jadi agama pertama-tama harus dipandang sebagai pengalaman dunia dalam individu yang mengsugesti esensi pengalaman semacam kesufian, karena kata Tuhan berarti sesuatu yang dirasakan sebagai supernatural, supersensible atau kekuatan diatas manusia. Hal ini lebih bersifat personal /pribadi yang merupakan proses psikologis seseorang[10].
Yang kedua adalah adanya keimanan, yang sebenarnya intrinsik ada pada pengalaman dunia dalam seseorang. Kemudian efek dari adanya  keimanan dan pengalaman dunia yaitu peribadatan[11].
Agama dari segi bahasa yang dapat dibahas dalam uraian yang diberikan Harun Nasution. Menurutnya agama dikenal dengan kata din   bahasa Arab dan kata religi dalam bahasa Eropa.
Menurut satu pendapat, demikian Harun Nasution mengatakan, kata Agama tersusun dari dua kata, a = tidak dan gam = pergi, jadi Agama artinya tidak pergi, tetap di tempat, diwarisi secara turun temurun. Selanjutnya agama dikatakan sebagai tuntunan. Selanjutnya din dalam bahasa semit berarti undang-undang atau hukum. Dalam bahasa Arab kata ini mengandung arti menguasai, menundukkan, patuh, utang, balasan dan kebiasaan. Drai pengertian tersebut berarti kandungan yang merupakan hukum yang harus dipatuhi penganut Agama yang bersangkutan.
Harun Nasution menyimpulkan dimensi Agama ialah :
  1. Pengakuan terhadap adanya hubungan manusia dengan kekuatan ghaib yang harus dipatuhi
  2. Pengakuan terhadap adanya kekuatan ghaib yang menguasai manusia.
  3. Mengikat diri pada suatu bentuk hidup yang mengandung pengakuan pada suatu sumber yang berada diluar diri manusia yang mempengaruhi perbuatan-perbuatan manusia
  4. Kepercayaan pada suatu kekuatan ghaib yang menimbulkan cara hidup tertentu
  5. Sistem suatu tingkah laku yang berasal dari kekuatan ghaib
  6. Pengakuan adanya kewajiban-kewajiban yang diyakini bersumber pada suatu kekuatan ghaib
  7. Pemujaan terhadap kekuatan ghaib yang timbul dari perasaan lemah dan perasaan takut terhadap kekuatan misterius yang terdapat dalam alam sekitar manusia
  8. Ajaran yang diwahyukan Tuhan kepada manusai melalui seorang Rasul[12].
Selanjutnya Harun Nasution merumuskan ada empat unsur yang terdapat dalam agama yaitu:
a.         Kekuatan ghaib, yang diyakini berada diatas manusia. Didorong oleh kelemahan dan keterbatasannya, manusia merasa berhajat akan pertolongan dengan cara menjaga dan membina hubungan baik dengan kekuatan ghaib tersebut. Sebagai realisasinya adalah sikap patuh terhadap perintah dan larangan kekuatan ghaib itu.
b.         Keyakinan tehadap kekuatan ghaib sebagai penentu nasib baik nasib buruk manusia. Dengan demikian manusia berusaha untuk menjaga hubungan baik ini agar kesejahteraan dan kebahagiaannya terpelihara.
c.         Respon yang bersifat emosional dari manusia. Respon ini dalam realisasinya terlihat dalam bentuk penyembahan karena didorong oleh perasaan takut (agama primitif) atau pemujaan yang didorong oleh perasaan cinta (monoteisme), serta bentuk cara hidup tertentu bagi penganutnya.
d.        Paham akan adanya yang kudus dan suci. Sesuatu yang kudus dan suci ini adakalanya berupa kekuatan ghaib, kitab yang berisi ajaran agama, maupun tempat-tempat tertentu[13].
Adapun bentuk kepercayaan yang dianggap sebagai Agama, tampaknya memang memiliki ciri umum yang hampir sama, baik dalam Agama primitif maupun Agama monoteisme. Menurut Robert H.Thouless dalam kaitannya dengan psikologi Agama, ia mengatakan Agama adalah sikap (cara penyesuaian diri terhadap dunia yang mencakup acuan yang menunjukkan lingkungan lebih luas daripada lingkungan dunia fisik yang terikat ruang dan waktu).
Beranjak dari kedua pengertian psikologi dan Agama, maka psikologi agama dapat diartikan sebagai Psikologi yang mempelajari tingkah laku manusia dalam hubungan dengan pengaruh keyakinan terhadap agama yang dianutnya serta dalam kaitannya dengan perkembangan usia masing-masing. Upaya untuk mempelajari tingkah laku keagamaan tersebut dilakukan melalui pendekatan psikologi melalui penelaahan yang merupakan kajian empiris.
Psikologi Agama sebagai salah satu cabang ilmu dari psikologi juga merupakan ilmu terapan. Psikologi Agama sejalan dengan ruang lingkup kajiannya telah banyak memberi sumbangan dalam memecahkan persoalan kehidupan manusia dalam kaitannya dengan agama yang dianut.
Berapapun macam definisi Agama dalam psikologi Agama yang diberikan para ahli, namun bagi kita yang penting adalah Agama yang dirasakan dengan hati, pikiran, dan dilaksanakan dalam tindakan serta memantul dalam sikap (yang menjadi kajian psikologi Agama) dan cara menghadapi hidup pada umumnya, atau dengan ringkas yang kita teliti adalah proses kejiwaan terhadap Agama dan pengaruhnya dalam hidup pada umumnya.
Adanya keterkaitan yang erat antara psikologi dan Agama. Bila ditinjau dari pengertiannya Psikologi adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku sedangkan agama dapat diartikan sebagai suatu keyakinan terhadap suatu ajaran. Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa pemahaman perilaku keagamaan yang mana agama dapat mempengaruhi tingkah laku manusia baik dalam kehidupan bermasyarakat, berkelompok dan berbudaya juga dalam kehidupan beragama.
Ayat tentang Psikologi Agama
óOs9urr& ttƒ ß`»|¡RM}$# $¯Rr& çm»oYø)n=yz `ÏB 7pxÿõÜœR #sŒÎ*sù uqèd ÒOÅÁyz ×ûüÎ7B ÇÐÐÈ  
77. dan Apakah manusia tidak memperhatikan bahwa Kami menciptakannya dari setitik air (mani), Maka tiba-tiba ia menjadi penantang yang nyata!
Tidak ada satupun definisi tentang agama (religion) yang dapat diterima secara umum, karena  para filsuf, sosiolog, psikolog merumuskan agama menurut caranya masing-masing, menurut sebagian filsuf religion adalah ”Supertitious structure of incoheren metaphisical notion. Sebagian ahli sosiolog lebih senang menyebut religion sebagai ”collective expression of human values”. Para pengikut Karl Marx mendifinisikan Religion sebagai “the opiate of people”. Sebagian Psikolog menyimpulkan religion adalah mystical complex surrounding a projected superego” disini menjadi jelas bahwa tidak ada batasa tegas mengenai agama/religion yang mencakup berbagai fenomena religion[14].
Menurut Einstein , pada pidato tahun 1939 di depan Princeton Theological seminar, ”ilmu pengetahuan hanya dapat diciptakan oleh mereka yang dipenuhi dengan gairah untuk mencapai kebenaran dan pemahaman, tetapi sumber perasaan itu berasal dari tataran agama, termasuk didalamnya keimanan pada kemungkinan bahwa semua peraturan yang berlaku pada dunia wujud itu bersifat rasional, artinya dapat dipahami akal. Saya tidak dapat membayangkan ada ilmuwan sejati yang tidak mempunyai keimanan yang mendalam seperti itu, ilmu pengetahuan tanpa agama lumpuh, agama tanpa ilmu pengetahuan buta[15].
Beragama berarti melakukan dengan cara tertentu dan sampai tingkat tertentu penyesuaian vital betapapun tentative dan tidak lengkap pada apapun yang ditanggapi atau yang secara implicit atau eksplisit dianggap layak diperhatikan secara serius dan sungguh-sungguh (Vergulius Ferm)[16].
Psikologis atau ilmu jiwa mempelajari manusia dengan memandangnya dari segi kejiwaan yang menjadi obyek ilmu jiwa yaitu manusia sebagai mahluk berhayat yang berbudi. Sebagai demikian, manusia tidak hanya sadar akan dunia disekitarnya dan akan dorongan  alamiah yang ada padanya, tetapi ia juga menyadari kesadaranya itu , manusia  mempunyai kesadaran diri ia menyadati dirinya sebagai pribadi, person yang sedang berkembang, yang menjalin hubungan dengan sesamanya manusia yang membangun tata ekonomi dan politik yang menciptakan kesenian, ilmu pengetahuan dan tehnik yang hidup bermoral dan beragama, sesuai dengan banyaknya dimensi kehidupan insani , psikologi dapat dibagi menjadi beberapa cabang[17].
Kepercayaan dan pengamalannya sangat beragam antara tradisi yang utama dan usaha dalam mendifinisikan agama itu sendiri secara keseluruhan yang sempurna. Agama sendiri menurut bahasa latin berasal dari kata religio, yang dapat di artikan sebagai kewajiban atau ikatan[18].
Menurut Oxford English Dictionary, “religion represent the human recognition of super human controlling  power, and especially of a personal God or Gods entitle to obedience and worship”, agama menghadirkan manusia yang kehidupannya di kontrol oleh sebuah kekuatan yang disebut Tuhan atau para dewa-dewa untuk patuh dan menyembahnya.
Psikologi agama merupakan bagian dari psikologi yang mempelajari masalah-masalah kejiwaan yang ada sangkut pautnya dengan keyakinan beragama, dengan demikian psikologi agama mencakup dua bidang kajian yang sama sekali berlainan, sehingga ia berbeda dari cabang psikologi lainnya[19].
Psikologi agama tidak berhak membuktikan benar tidaknya suatu agama, karena ilmu pengetahuan tidak mempunyai tehnik untuk mendemonstrasikan hal-hal yang seperti itu baik sekarang atau masa depan, Ilmu pengetahuan tidak mampu membuktikan ketidak-adaan Tuhan, karena tidak ada tehnik empiris untuk membuktikan adanya gejala yang tidak empiris, tetapi sesuatu yang tidak dapat dibuktikan secara empiris bukanlah berarti tidak ada jiwa. Psikologi agama sebagai ilmu pengetahuan empiria tidak menguraikan tentang Tuhan dan sifat-sifatNya tapi dalam psikologi agama dapat diuraikan tentang pengaruh iman terhadap tingkah laku manusia. Psikologi dapat menguraikan iman agama kelompok atau iman individu, dapat mempelajari lingkungan-lingkungan empiris dari gejala keagamaan, tingkah laku keagamaan, atau pengalaman keagamaan, pengalaman keagamaan, hukum-hukum umum tetang terjadinya keimanan, proses timbulnya kesadaran beragama dan persoalan empiris lainnya. Ilmu jiwa agama hanyalah menghadapi manusia dengan pendirian dan perbuatan yang disebut agama, atau lebih tepatnya hidup keagamaan[20].
Secara umum psikologi diartikan sebagai ilmu yang mempelajari gejala jiwa yang normal, dewasa dan beradab[21].
Psikologi agama meneliti dan menelaah kehidupan beragama pada seseorang dan mempelajari seberapa besar pengaruh keyakinan agama itu dalam sikap dan tingkah laku serta keadaan hidup pada umumnya. Disamping itu psikologi juga mempelajari pertumbuhan dan perkembangan jiwa agama pada orang serta faktor yang mempengaruhi keyakinan tersebut[22].
Menurut Robert H. Thouless, psikologi sekarang digunakan secara umum untuk ilmu tentang tingkah laku dan pengalaman manusia[23].
John Broadus Waston, memandang psikologi sebagai ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku tampak (lahiriah) dengan menggunakan metode observasi yang objektif terhadap rangsangan dan jawaban[24].
















3.      KESIMPULAN
Psikologi agama menggunakan dua kata yaitu psikologi dan agama. Kedua kata ini memiliki pengetian yang berbeda. Psikologi secara umum diartikan sebagai ilmu yang mempelajari gejala jiwa manusia yang normal, dewasa dan beradab.
Menurut Robert H Thoules psikologi sekarang dipergunakan secara umum untuk ilmu tentang tingkah laku dan pengalaman manusia.
Menurut Prof. Dr. Zakiah Darajat bahwa psikologi agama meneliti pengaruh agama terhadap sikap dan tingkah laku orang atau mekanisne yang bekerja dalam diri seseorang, karena cara seseorang berpikir, bersikap, bereaksi dan bertingkah laku tidak dapat dipisahkan dari keyakinannya, karena keyakinan itu masuk dalam kostruksi pribadi.
Untuk menetapkan secara pasti kapan psikologi agama mulai dipelajari memang terasa agak sulit. Baik dalam kitab suci, maupun sejarah tentang agama-agama tidak terungkap secara jelas mengenai hal itu. Namun demikian, walaupun tidak secara lengkap, ternyata permasalahan yang menjadi ruang lingkup kajian psikologi agama  banyak dijumpai baik melalui informasi kitab suci agama maupun sejarah agama.














DAFTAR PUSTAKA

·         Abidin Nata., 1998, Metodologi Study Islam, Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada
·         Ahmad Fauzi,2004,  Psikologi Umum, Bandung : Pustaka Setia
·         Aziz Ahyadi, Psikologi Agama, Bandung: Mertiana
·         Bambang Syamsul Arifin, 2008,  Psikologi Agama, Bandung: Pustaka Setia
·         Endang Saifuddun Anshari,1979, Ilmu, Filsafat dan Agama: Bina Ilmu
·         Jalaludin, 2004, Psikologi Agama, Jakarta: PT Raja Grafindo Prasada
·         Jalaludin, 2001, Psikologi Agama, Jakarta: Grafindo Persada.
·         Jalaluddin Rakhmat, 2004, Psikologi Agama sebuah pengatar : Mizan
·         Nico Syukur Dister, Psikologi Agama: Kanisius,
·         Ramayulis,2002, Psikologi Agama, Jakarta :Kalam Mulia
·         Ramayulis, 2004, Psikologi Agama, Jakarta: Kalam Mulia
·         Ramayulis, 2011, Psikologi Agama, Jakarta: Kalam Mulia
·         Sururin, 2004, Ilmu Jiwa Agama, Jakarta: Grafindo Persada
·         www. Google.com
·         Zakiah Daradjat, dkk, 2004, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara


[1] Sururin, Ilmu Jiwa Agama, Jakarta: Grafindo Persada, 2004, hlm. 1
[2] Ramayulis, Psikologi Agama, Jakarta: Kalam Mulia, 2002, hlm: 5
[3]Sururin, Ilmu Jiwa Agama, Jakarta, Grafindo Persada, 2004,  Hlm. 2-3
[4] Bambang Syamsul Arifin, Psikologi Agama, Bandung: Pustaka Setia, 2008, hlm. 11
[5] Ramayulis, Psikologi Agama, Jakarta: Kalam Mulia, 2011, hlm. 5-6
[6] Jalaluddin Rakhmat , Psikologi Agama sebuah pengatar, Mizan, 2004, hlm. 50
[7] Ibid. Hlm. 51
[8] Ibid. Hlm. 50
[9] A. Aziz Ahyadi , Psikologi Agama,Bandung: penerbit Martiana, hlm. 17
[10] Ibid
[11] Ibid
[12] Abidin Nata., Metodologi Study Islam, Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada, 1998,  hlm.13
[13] Jalaludin, Psikologi Agama, Jakarta: Grafindo Persada. 2001, hlm.13-14
[14]Endang Saifuddun Anshari, Ilmu, Filsafat dan Agama: Bina Ilmu 1979, hlm, 111
[15] Ibid. hlm. 53
[16] Ibid. hlm. 51
[17] Nico Syukur Dister, Psikologi Agama: Kanisius, hlm. 9
[18] www. Google.com
[19] Ramayulis, Psikologi Agama, Jakarta :Kalam Mulia ,2004 hlm. 1
[20] Aziz Ahyadi, Psikologi Agama, Bandung: Mertiana, hlm. 9 - 10
[21] Jalaludin,, Psikologi Agama, Jakarta: PT Raja Grafindo Prasada.2002,  hlm. 10
[22] Zakiah Daradjat, dkk, 2004, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara.hlm. 1
[23] Jalaludin, Psikologi Agama, Jakarta: Grafindo Persada. 2001, hlm. 11
[24] Ahmad Fauzi, Psikologi Umum, Bandung : Pustaka Setia, 2004, hlm. 9

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar